RSS

Arsip Bulanan: Juni 2011

Bergaullah Dengan Orang-Orang Baik (2/2)

Bismillah, segala puji hanya milik Allahk, shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah n, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqomah mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

Ikhwatiy fillah yang dimuliakan Allahk, kita telah mengetahui bahwasanya Allahkdan Rasul-Nya n telah memerintahkan kita untuk bergaul dengan orang-orang baik yang senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allahk,, dimana hubungan yang dibangun diatas cinta dan ketaatan kepada Allah merupakan sebab mendapatkan kecintaan, keridhaan dan pahala yang melimpah dari Allah lserta berhak mendapatkan keutamaan baik didunia maupun di akhirat.

Adapun keutamaan di dunia yang telah disebutkan pada edisi yang lalu adalah:

a)      Mendapat cinta Allahk

b)      Merasakan manisnya iman

c)      Allahkakan memuliakannya

d)      Senantiasa mendapatkan kebaikan yang tak terhingga.

Maka pada edisi kali ini kita akan membahas keutaman di akhirat yang akan diraih oleh orang yang bergaul dengan orang-orang yang baik, semoga bermanfaat…

Keutamaan di akhirat

Seseorang yang membangun hubungan sosialnya berdasarkan cinta dan ketaatan kepada Allahl, maka ia akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang besar di akhirat, diantaranya:

a)      Allahkakan menaunginya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.

Rasulullah n bersabda:

“Allah berfirman: ‘Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku berada dibawah naungan arsyKu pada hari yang tiada naugan kecuali naunganKu.’” (HR. Muslim, Malik, Ahmad dan Thabrani)

Juga sabdabnya n :

« إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى »

“Sesungguhnya Allahlberfirman pada hari kiamat: “Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini aku naungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku.” (HR. Muslim)

Sungguh bahagia orang-orang yang berteman dengan hamba Allah yang shalih, tatkala matahari cuma beberapa mil diatas kepala, manusia dalam keadaan telanjang, tak beralas kaki dan berdesak-desakan, tiada tempat untuk berteduh, namun orang-orang yang saling mencintai karena Allahlberada dibawah naungan-Nya. Semoga kita semua termasuk golongan mereka.

b)      Pada hari kiamat dia berada diatas mimbar dari cahaya.

Rasulullah n bersabda:

“Wahai manusia, dengarkan dan pahamilah; ketahuilah bahwa Allah memiliki para hamba yang mereka itu bukan para nabi ataupun syuhada. Para nabi dan syuhada ingin seperti mereka karena tempat dan kedekatan mereka kepada Allah.” Seseorang badui berkata: “Wahai Rasulullah tolong sifatkan mereka kepada kami.” Rasulullah lantas tersenyum mendengar ucapan lelaki badui tersebut dan bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal dan asing, mereka tidak memiliki tali kekerabatan satu sama lain, mereka saling mencintai karena Allah dan menjadi satu barisan. Allah menyediakan mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka sebagai tempat duduk mereka dan menjadikan wajah dan pakaian mereka bercahaya. Pada hari kiamat manusia diliputi rasa takut namun mereka tidak, mereka adalah wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Ahmad)

c)      Bersama orang-orang yang dicintainya walaupun dia tidak beramal seperti mereka.

Allahlberfirman:

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur:21)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa keturunannya yang mengikuti keimanan, akan dipertemukan dan digabung bersamanya oleh Allah kelak di surga.

Dari Anas v, dia berkata: “Seorang lelaki mendatangi Rasulullah n dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, kapankah datangnya kiamat?’ Beliau n menjawab: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab: ‘Cinta pada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”

Anas v berkata: “Sesungguhnya kami tidak merasakan setelah Islam kegembiraan yang lebih hebat dari ucapan Rasulullah: “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.””

Anas v berkata: “Sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa berkumpul dengan mereka meski aku belum beramal seperti mereka.” (HR. Muslim)

Rasulullah n bersabda:

« الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ »

“Seseorang itu akan bersama orang yang dia cinta” (HR. Bukhori dan Muslim)

Juga sabda Rasulullah n :

« لَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حَشَرَ مَعَهُمْ »

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka.” (HR. At-Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Targhib)

d)      Menempatkannya di tempat yang tinggi di surga.

Rasulullah n bersabda:

“Sesunggnuhnya di surga terdapat pilar-pilar dari yakut, diatasnya ada kamar-kamar dari zamrud. Kamar-kamar ini memiliki pintu yang erbuka dan bersinar seumpama mutiara.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah penghuninya?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah, orang-orang yang duduk bersama karena Allah dan orang-orang yang bersua karena Allah.” (HR. Al-Bazzar, dilemahkan oleh Al-Albani dalam At-Targhib dan dihasankan oleh para pentahqiq At-Targhib)

Sebagai wujud kasih sayang Allahlterhadap hambanya, Allahlbenar-benar mengarahkan hambanya agar mendapatkan keutamaan tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan jelas dari firman-Nyalyang melarang hambanya dari kecenderungan bergaul dengan orang-orang dzalim,

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Huud: 113)

Rasulullah n bersabda:

“Janganlah kamu bergaul kecuali dengan seorang mukmin dan janganlah sampai menyentuh makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dan semoga Allahkmerahmati seorang penyair yang telah mengingatkan kita dengan syairnya,

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوْفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ

 

يَعُدْ حَمْدُهُ ذَمًّا عَلَيْهِ وَيَنْدَمِ

Barang siapa berbuat baik terhadap orang yang tidak berhak atasnya

Niscaya celaan dan penyesalan menjadi buah dari kebaikannya

 

Ya Allah, cintakan hati kami kepada orang-orang shalih, dan gabungkan kami beserta mereka di dunia dalam keridhaan-Mu dan di akhirat dalam surga-Mu.

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaika, waakhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

 

(Disarikan dengan disertai penambahan dari buku “Adab Berteman” karya Fariq Gasim Anuz oleh Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2011 in Adab

 

Ingatlah Sebelum Kamu Bermaksiat

Sesungguhnya kemaksiatan itu adalah kelukaan bagi hati, kegelapan bagi jiwa, kelemahan bagi raga, jalan menuju nestapa, serta penggiring kepada neraka. Sungguh kemaksiatan itu walaupun menyenangkan pada awalnya namun kesengsaraan telah menantinya. Apabila orang yang senantiasa melakukan kemaksiatan mengetahui akibat buruk dari dosa dan kemaksiatan, niscaya dia akan berhenti dari kemaksiatannya dan akan istiqomah (teguh) dalam ketaatan dan kebaikannya. Akan tetapi mata kemaksiatan itu buta!
Seorang penyair berkata:

قَدْ تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ                        وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ مِنْ سَقَمِ

Terkadang mata mengingkari cahaya matahari lantaran buta
Dan mulut mengingkari segarnya air lantaran menderita

 Maka apakah yang telah membinasakan umat-umat terdahulu dan kebudayaan-kebudayaannya, selain daripada dosa-dosa dan kemaksiatan?
Allahlberfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan”, (Al-‘Ankabut: 40)

 Apa yang telah mengeluarkan kedua orang tua kita (adam dan hawa) dari surga Tempat yang penuh kelezatan, kenikmatan, kegembiraan dan kebahagiaan kepada tempat yang dihiasi rasa sakit, kesedihan dan kesengsaraan?
 Apa yang telah mengeluarkan iblis dari kerajaan langit, mengusirnya, melaknatnya, membencinya dan menjadikannya pemimpin bagi setiap orang yang durhaka sesat lagi kafir?
 Apa yang telah menenggelamkan seluruh penduduk bumi pada zaman nabi Nuh ‘alaihis salam, sehingga permukaan air lebih tinggi dari puncak gunung?
 Apa yang telah menenggelamkan fir’aun dan bala tentaranya di laut, kemudian melemparkan arwah mereka ke neraka, sehinnga jasad-jasadnya ditenggelamkan dan arwah-arwahnya dibakar?
 Apa yang telah menjadikan keadaan kita berbalik, sehinga orang-orang yahudi merampas negeri-negeri kita, tempat-tempat suci kita dan harta-harta kita, menyembelih membunuh dan mengadzab kita, sehingga kita menjadi umat yang yang terhina setelah dulunya kita adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan kepada manusia?
Bukankah hal itu tidak lain adalah dosa-dosa dan kemaksiatan?
Buankah itu disebabkan kita terlalu condong kepada dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah?
Bukankah iu semua disebabkan kita yang selalu memperturutkan hawa nafsu dan mencari-cari kenikmatan yang haram lagi semu?

 Wahai saudaraku tercinta, sebelum kamu berbuat maksiat, ingatlah bahwasanya Allahlmelihatmu dan dia maha mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan:
“tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Al-Mujadilah: 7)

 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah bahwasanya malaikat mencatat semua perkataan dan perbuatanmu di dalam lembaran-lembaran amalmu, dia tidak meninggalkan sekecil apapun dari amalanmu meski sekecil dzarrah atau lebih kecil dari itu. Allahlberfirman:
“tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)
“Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, Padahal mereka telah melupakannya.” (Al-Mujadilah: 6)

“Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Jatsiyah: 29)
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Az-Zalzalah:7-8)

 Sebelum kamu bemaksiat, ingatlah hari dimana orang-orang durjana berkata:
“dan mereka berkata: “Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun”. (Al-Kahfi: 49)

 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari dimana orang-orang kafir berkata:
“Aduhai, Alangkah baiknya Sekiranya dahulu aku adalah tanah”. (An-Naba:40)

 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari tatkala matahari didekatkan berjarak hanya satu mil dari kepala dan manusia bergelimang dengan keringat.

“lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” (HR. Muslim)
 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari tatkala manusia dikumpulkan pada hari kiamat tanpa beralas kaki, tanpa ada sehelai benang yang melapisi dan tanpa dikhitani. Rasulullah shallallhu ‘alalihi wasallam bersabda:
“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tak beralas kaki, tanpa ada sehelai benang yang melapisi dan tanpa dikhitani”. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah wanita dan laki-laki semuanya akan saling melihat satu sama lain. Beliau menjawab: “Wahai ‘aisyah perkara hari itu lebih dahsyat dari sekedar melihat satu sama lain.” (Muttafaqun ‘alaihi)
 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah saat kematian, saat ruh berpisah dengan jasad, saat dimana kamu menyesali dirimu sedangkan pada saat itu tidak bermanfaat penyesalan dan permohonan ampunmu.
“jika mereka bersabar (menderita azab) Maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, Maka tidaklah mereka Termasuk orang-orang yang diterima alasannya.” (Al-Fushshilat: 24)
 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah malaikat maut yang mengurusi pencabutan ruhmu, dia mencabutnya dengan begitu keras, sehingga seluruh anggota tubuhmu bak terpotong-potong/tercabik-cabik lantaran kerasnya. Ketika itu kamu ingin bertasbih walau hanya satu kali namun mulut tak mampu menuruti, atau ingin bertakbir walau satu kali namun lidah tidak berdaya, atau ingin behtahlil saja namun juga tidak kuasa, atau ingin shalat walau hanya dua rakaat namun tubuh tidaklah kuat, atau bersedekah walau hanya satu rupiah namun diri teramat payah, atau membaca al-quran meski satu ayat namun lisan tak mau terangkat. Sungguh lisan telah membisu, mata telah terbelalak, tangan dan kaki telah kaku dan akalpun hilang lantaran dahsyatnya apa yang dia lihat pada hari itu.
 Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah akan kubur dan azabnya, kesempitan dan kegelapannya, cacing-cacing dan hewan-hewannya, kuburan itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka. Rasulullah bersabda:
“Andai kalian tidak akan dikubur, niscaya aku berdoa kepada Allah agar memperdengarkan adzab kubur pada kalian.” (HR. Muslim)
Diantara akibat yang paling besar dari kemaksiatan adalah bahwasanya kemaksiatan menjadikan terputusnya hubungan antara hamba dan rabbnya, dan apabila hal ini terjadi maka terputuslah darinya sebab-sebab kebaikan dan tersambunglah dengan sebab-sebab kejelekan.
Kita berdoa kepada Allah tabaraka wata’ala semoga dia menjadikan kita termasuk hambanya yang taat yang tidak ada ketakutan baginya dan tidak pula dia bersedih hati.

Diringkas dan diterjemahkan dari kutaib Tadzakkar qobla an ta’shiy oleh Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo (Mahasiswa STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2011 in Ibroh

 

Bergaullah Dengan Orang-orang Sholih (1/2)

ilmu adalah agamaAnjuran bergaul dengan orang baik

Ikhwatiy fillah yang senantiasa dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, ketahuilah bahwasanya Allah subhanahu wata’ala,telah berfirman,

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu sangat melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Allah subhanahu wata’ala sang pencipta manusia pasti lebih paham akan keadaan makhluk-Nya dibanding manusia itu sendiri. Ia ciptakan manusia dalam keadaan lemah, bodoh, tergesa-gesa dan mudah berkeluh kesah.

Manusia adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan bantuan orang lain, padahal karakter manusia itu berbeda-beda, sehingga wajar dan pantas tatkala ia berbaur dengan masyarakat banyak, ia harus menyesuaikan diri dengan adat istiadat masyarakat setempat dan sudah lumrah andaikata ia mudah terpengaruh oleh suasana dan keadaan di sekelilingnya.

Maka Allah subhanahu wata’ala sang pencipta syariat memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersama dan bergaul dengan orang-orang baik demi menjaga keimanan mereka, sebagaimana firmanNya,

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’la tidak mencukupkan dengan perintah bertakwa saja, namun Ia pun memerintahkan mereka untuk senantiasa menyertai orang-orang yang benar lagi jujur sebagai sarana melestarikan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan wanginya. Sedangkan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad)

Kebutuhan manusia akan lingkungan yang baik, laksana kebutuhan tanaman akan tanah yang subur. Manakala tanah itu bagus, cukup kandungan unsur haranya, suhunya cocok dan airnya cukup, maka tanaman tersebut akan bersemi, tumbuh berkembang dan berbuah sesuai yang diharapkan. Namun bila tanah tersebut tandus, suhunya tidak cocok dan airnya tidak stabil, maka tanaman tersebut tidak akan berkembang dengan baik dan tidak akan menghasilkan buah sesuai dengan yang didambakan, bahkan tanaman itu bisa mati karenanya.

Maka selayaknya kita mencari lingkungan yang baik, teman yang shalih yang bisa mendukung kita untuk selalu istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه الترمذي)

“Seseorang itu tergantung kepada kepribadian teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ikhwaniy fillah ketahuilah, bahwa interaksi sosial itu apabila dibangun diatas kemaksiatan, maka para pelakunya sama-sama akan mendapatkan dosa dan murka Allah subhanahu wata’ala. Jika dibangun diatas dasar kedunian belaka, maka para pelakunya tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun jika hubungan tersebut dibangun diatas kecintaan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hubungan yang seperti ini sangat dianjurkan oleh syariat dan pelakunya berhak mendapatkan kecintaan, keridhaan dan pahala yang melimpah dari Allah subhanahu wata’ala serta berhak mendapatkan keutamaan baik didunia maupun di akhirat.

Keutamaan bergaul dengan orang baik

Adapun keutamaan di dunia:

a)   Mendapat cinta Allah subhanahu wata’ala

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

حقت محبتي على المتحابين في وحقت محبتي على المتناصحين في وحقت محبتي على المتزاورين في وحقت محبتي على المتباذلين في وهم على منابر من نور

“Berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling mencitai karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling menasihati karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling mengunjungi karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling memberi karena aku, mereka berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya.” (HR. Malik, Ahmad dan Ibnu Hibban)

b)   Merasakan manisnya iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman, hendaklah dia mencintai saudaranya dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam:

« ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ »

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman. Jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang yang tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, ia benci untuk kembali pada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilempar kedalam neraka,” (HR. Bukhori dan Muslim)

c)    Allahkakan memuliakannya

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

ما أحب عبد عبدا إلا أكرمه الله عز وجل

“Tidaklah seorang hamba mencintai hamba lain karena Allah, malainkan Allah akan memuliakannya.” (HR. Ahmad)

Ikhwatiy fillah ketahuilah, bahwa cinta terbesar dari Allah akan diraih oleh orang yang paling besar kecintaannya kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما تحاب رجلان في الله إلا كان أحبهما إلى الله عز وجل أشدهما حبا لصاحبه

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, melainkan orang yang paling dicintai Allah diantara keduanya adalah yang paling besar kecintaanya kepada saudaranya.” (HR. Bukhori, Ath-Thobroni dan Abu Ya’la)

d)   Senantiasa mendapatkan kebaikan yang tak terhingga

Ketika seseorang bergaul dengan orang yang shalih, maka ia akan senantiasa menyaksikan ketulusan hati, amal-amal kebaikan, kejujuran dalam bermuamalah, bantuan dan motivasi, mendengarkan untaian nasihat-nasihatnya dan ia akan menuntunnya untuk sama-sama beramal shalih sepertinya, lebih-lebih kalau ia bergaul dengan ulama, selain akan mendapatkan kebaikan diatas, ia pun akan senantiasa meneguk madunya ilmu, arahan dan qudwah hasanah dalam segala kebaikan.

Alangkah beruntungnya mereka yang menghabiskan masa hidupnya di bawah bimbingan ulama, jauh dari kebodohan, terbebes dari subhat yang mengitarinya atau syahwat yang siap memangsanya, selalu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada diri dan keluarganya, dan mereka adalah para sahabat beserta nabinya. Semoga kita termasuk bagian dari mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه الترمذي)

“seseorang itu tergantung kepada kepribadian teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Abu Dawud)

Dan semoga Allahkmerahmati seorang penyair yang telah mengingatkan kita dengan syairnya,

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوْفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ            يَعُدْ حَـــمْـدُهُ ذَمًّـا عَـلَــيْهِ وَيَـنْــــــــدَمِ
Barang siapa berbuat baik terhadap orang yang tidak berhak atasnya

Niscaya celaan dan penyesalan menjadi buah dari kebaikannya

Ya Allah, cintakan hati kami kepada orang-orang shalih, dan gabungkan kami beserta mereka di dunia dalam keridhaan-Mu dan di akhirat dalam surga-Mu.

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaika, waakhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

(Disarikan dengan disertai penambahan dari buku “Adab Berteman” karya Fariq Gasim Anuz oleh Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo “085268643696”)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2011 in Adab, Religi