RSS

Bergaullah Dengan Orang-orang Sholih (1/2)

09 Jun

ilmu adalah agamaAnjuran bergaul dengan orang baik

Ikhwatiy fillah yang senantiasa dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, ketahuilah bahwasanya Allah subhanahu wata’ala,telah berfirman,

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu sangat melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Allah subhanahu wata’ala sang pencipta manusia pasti lebih paham akan keadaan makhluk-Nya dibanding manusia itu sendiri. Ia ciptakan manusia dalam keadaan lemah, bodoh, tergesa-gesa dan mudah berkeluh kesah.

Manusia adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan bantuan orang lain, padahal karakter manusia itu berbeda-beda, sehingga wajar dan pantas tatkala ia berbaur dengan masyarakat banyak, ia harus menyesuaikan diri dengan adat istiadat masyarakat setempat dan sudah lumrah andaikata ia mudah terpengaruh oleh suasana dan keadaan di sekelilingnya.

Maka Allah subhanahu wata’ala sang pencipta syariat memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersama dan bergaul dengan orang-orang baik demi menjaga keimanan mereka, sebagaimana firmanNya,

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’la tidak mencukupkan dengan perintah bertakwa saja, namun Ia pun memerintahkan mereka untuk senantiasa menyertai orang-orang yang benar lagi jujur sebagai sarana melestarikan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan wanginya. Sedangkan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad)

Kebutuhan manusia akan lingkungan yang baik, laksana kebutuhan tanaman akan tanah yang subur. Manakala tanah itu bagus, cukup kandungan unsur haranya, suhunya cocok dan airnya cukup, maka tanaman tersebut akan bersemi, tumbuh berkembang dan berbuah sesuai yang diharapkan. Namun bila tanah tersebut tandus, suhunya tidak cocok dan airnya tidak stabil, maka tanaman tersebut tidak akan berkembang dengan baik dan tidak akan menghasilkan buah sesuai dengan yang didambakan, bahkan tanaman itu bisa mati karenanya.

Maka selayaknya kita mencari lingkungan yang baik, teman yang shalih yang bisa mendukung kita untuk selalu istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه الترمذي)

“Seseorang itu tergantung kepada kepribadian teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ikhwaniy fillah ketahuilah, bahwa interaksi sosial itu apabila dibangun diatas kemaksiatan, maka para pelakunya sama-sama akan mendapatkan dosa dan murka Allah subhanahu wata’ala. Jika dibangun diatas dasar kedunian belaka, maka para pelakunya tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun jika hubungan tersebut dibangun diatas kecintaan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hubungan yang seperti ini sangat dianjurkan oleh syariat dan pelakunya berhak mendapatkan kecintaan, keridhaan dan pahala yang melimpah dari Allah subhanahu wata’ala serta berhak mendapatkan keutamaan baik didunia maupun di akhirat.

Keutamaan bergaul dengan orang baik

Adapun keutamaan di dunia:

a)   Mendapat cinta Allah subhanahu wata’ala

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

حقت محبتي على المتحابين في وحقت محبتي على المتناصحين في وحقت محبتي على المتزاورين في وحقت محبتي على المتباذلين في وهم على منابر من نور

“Berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling mencitai karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling menasihati karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling mengunjungi karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling memberi karena aku, mereka berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya.” (HR. Malik, Ahmad dan Ibnu Hibban)

b)   Merasakan manisnya iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman, hendaklah dia mencintai saudaranya dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam:

« ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ »

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman. Jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang yang tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, ia benci untuk kembali pada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilempar kedalam neraka,” (HR. Bukhori dan Muslim)

c)    Allahkakan memuliakannya

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

ما أحب عبد عبدا إلا أكرمه الله عز وجل

“Tidaklah seorang hamba mencintai hamba lain karena Allah, malainkan Allah akan memuliakannya.” (HR. Ahmad)

Ikhwatiy fillah ketahuilah, bahwa cinta terbesar dari Allah akan diraih oleh orang yang paling besar kecintaannya kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما تحاب رجلان في الله إلا كان أحبهما إلى الله عز وجل أشدهما حبا لصاحبه

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, melainkan orang yang paling dicintai Allah diantara keduanya adalah yang paling besar kecintaanya kepada saudaranya.” (HR. Bukhori, Ath-Thobroni dan Abu Ya’la)

d)   Senantiasa mendapatkan kebaikan yang tak terhingga

Ketika seseorang bergaul dengan orang yang shalih, maka ia akan senantiasa menyaksikan ketulusan hati, amal-amal kebaikan, kejujuran dalam bermuamalah, bantuan dan motivasi, mendengarkan untaian nasihat-nasihatnya dan ia akan menuntunnya untuk sama-sama beramal shalih sepertinya, lebih-lebih kalau ia bergaul dengan ulama, selain akan mendapatkan kebaikan diatas, ia pun akan senantiasa meneguk madunya ilmu, arahan dan qudwah hasanah dalam segala kebaikan.

Alangkah beruntungnya mereka yang menghabiskan masa hidupnya di bawah bimbingan ulama, jauh dari kebodohan, terbebes dari subhat yang mengitarinya atau syahwat yang siap memangsanya, selalu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada diri dan keluarganya, dan mereka adalah para sahabat beserta nabinya. Semoga kita termasuk bagian dari mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه الترمذي)

“seseorang itu tergantung kepada kepribadian teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Abu Dawud)

Dan semoga Allahkmerahmati seorang penyair yang telah mengingatkan kita dengan syairnya,

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوْفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ            يَعُدْ حَـــمْـدُهُ ذَمًّـا عَـلَــيْهِ وَيَـنْــــــــدَمِ
Barang siapa berbuat baik terhadap orang yang tidak berhak atasnya

Niscaya celaan dan penyesalan menjadi buah dari kebaikannya

Ya Allah, cintakan hati kami kepada orang-orang shalih, dan gabungkan kami beserta mereka di dunia dalam keridhaan-Mu dan di akhirat dalam surga-Mu.

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaika, waakhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

(Disarikan dengan disertai penambahan dari buku “Adab Berteman” karya Fariq Gasim Anuz oleh Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo “085268643696”)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2011 in Adab, Religi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: