RSS

Arsip Kategori: Adab

Bergaullah Dengan Orang-Orang Baik (2/2)

Bismillah, segala puji hanya milik Allahk, shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah n, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan orang-orang yang senantiasa istiqomah mengikutinya dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

Ikhwatiy fillah yang dimuliakan Allahk, kita telah mengetahui bahwasanya Allahkdan Rasul-Nya n telah memerintahkan kita untuk bergaul dengan orang-orang baik yang senantiasa menjalankan ketaatan kepada Allahk,, dimana hubungan yang dibangun diatas cinta dan ketaatan kepada Allah merupakan sebab mendapatkan kecintaan, keridhaan dan pahala yang melimpah dari Allah lserta berhak mendapatkan keutamaan baik didunia maupun di akhirat.

Adapun keutamaan di dunia yang telah disebutkan pada edisi yang lalu adalah:

a)      Mendapat cinta Allahk

b)      Merasakan manisnya iman

c)      Allahkakan memuliakannya

d)      Senantiasa mendapatkan kebaikan yang tak terhingga.

Maka pada edisi kali ini kita akan membahas keutaman di akhirat yang akan diraih oleh orang yang bergaul dengan orang-orang yang baik, semoga bermanfaat…

Keutamaan di akhirat

Seseorang yang membangun hubungan sosialnya berdasarkan cinta dan ketaatan kepada Allahl, maka ia akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang besar di akhirat, diantaranya:

a)      Allahkakan menaunginya pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.

Rasulullah n bersabda:

“Allah berfirman: ‘Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku berada dibawah naungan arsyKu pada hari yang tiada naugan kecuali naunganKu.’” (HR. Muslim, Malik, Ahmad dan Thabrani)

Juga sabdabnya n :

« إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى »

“Sesungguhnya Allahlberfirman pada hari kiamat: “Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini aku naungi mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku.” (HR. Muslim)

Sungguh bahagia orang-orang yang berteman dengan hamba Allah yang shalih, tatkala matahari cuma beberapa mil diatas kepala, manusia dalam keadaan telanjang, tak beralas kaki dan berdesak-desakan, tiada tempat untuk berteduh, namun orang-orang yang saling mencintai karena Allahlberada dibawah naungan-Nya. Semoga kita semua termasuk golongan mereka.

b)      Pada hari kiamat dia berada diatas mimbar dari cahaya.

Rasulullah n bersabda:

“Wahai manusia, dengarkan dan pahamilah; ketahuilah bahwa Allah memiliki para hamba yang mereka itu bukan para nabi ataupun syuhada. Para nabi dan syuhada ingin seperti mereka karena tempat dan kedekatan mereka kepada Allah.” Seseorang badui berkata: “Wahai Rasulullah tolong sifatkan mereka kepada kami.” Rasulullah lantas tersenyum mendengar ucapan lelaki badui tersebut dan bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal dan asing, mereka tidak memiliki tali kekerabatan satu sama lain, mereka saling mencintai karena Allah dan menjadi satu barisan. Allah menyediakan mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka sebagai tempat duduk mereka dan menjadikan wajah dan pakaian mereka bercahaya. Pada hari kiamat manusia diliputi rasa takut namun mereka tidak, mereka adalah wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati.” (HR. Ahmad)

c)      Bersama orang-orang yang dicintainya walaupun dia tidak beramal seperti mereka.

Allahlberfirman:

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur:21)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa keturunannya yang mengikuti keimanan, akan dipertemukan dan digabung bersamanya oleh Allah kelak di surga.

Dari Anas v, dia berkata: “Seorang lelaki mendatangi Rasulullah n dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, kapankah datangnya kiamat?’ Beliau n menjawab: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab: ‘Cinta pada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”

Anas v berkata: “Sesungguhnya kami tidak merasakan setelah Islam kegembiraan yang lebih hebat dari ucapan Rasulullah: “Sesungguhnya kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.””

Anas v berkata: “Sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa berkumpul dengan mereka meski aku belum beramal seperti mereka.” (HR. Muslim)

Rasulullah n bersabda:

« الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ »

“Seseorang itu akan bersama orang yang dia cinta” (HR. Bukhori dan Muslim)

Juga sabda Rasulullah n :

« لَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حَشَرَ مَعَهُمْ »

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka.” (HR. At-Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Targhib)

d)      Menempatkannya di tempat yang tinggi di surga.

Rasulullah n bersabda:

“Sesunggnuhnya di surga terdapat pilar-pilar dari yakut, diatasnya ada kamar-kamar dari zamrud. Kamar-kamar ini memiliki pintu yang erbuka dan bersinar seumpama mutiara.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah penghuninya?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah, orang-orang yang duduk bersama karena Allah dan orang-orang yang bersua karena Allah.” (HR. Al-Bazzar, dilemahkan oleh Al-Albani dalam At-Targhib dan dihasankan oleh para pentahqiq At-Targhib)

Sebagai wujud kasih sayang Allahlterhadap hambanya, Allahlbenar-benar mengarahkan hambanya agar mendapatkan keutamaan tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan jelas dari firman-Nyalyang melarang hambanya dari kecenderungan bergaul dengan orang-orang dzalim,

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Huud: 113)

Rasulullah n bersabda:

“Janganlah kamu bergaul kecuali dengan seorang mukmin dan janganlah sampai menyentuh makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dan semoga Allahkmerahmati seorang penyair yang telah mengingatkan kita dengan syairnya,

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوْفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ

 

يَعُدْ حَمْدُهُ ذَمًّا عَلَيْهِ وَيَنْدَمِ

Barang siapa berbuat baik terhadap orang yang tidak berhak atasnya

Niscaya celaan dan penyesalan menjadi buah dari kebaikannya

 

Ya Allah, cintakan hati kami kepada orang-orang shalih, dan gabungkan kami beserta mereka di dunia dalam keridhaan-Mu dan di akhirat dalam surga-Mu.

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaika, waakhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

 

(Disarikan dengan disertai penambahan dari buku “Adab Berteman” karya Fariq Gasim Anuz oleh Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo)

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2011 in Adab

 

Bergaullah Dengan Orang-orang Sholih (1/2)

ilmu adalah agamaAnjuran bergaul dengan orang baik

Ikhwatiy fillah yang senantiasa dimuliakan oleh Allah subhanahu wata’ala, ketahuilah bahwasanya Allah subhanahu wata’ala,telah berfirman,

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu sangat melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Allah subhanahu wata’ala sang pencipta manusia pasti lebih paham akan keadaan makhluk-Nya dibanding manusia itu sendiri. Ia ciptakan manusia dalam keadaan lemah, bodoh, tergesa-gesa dan mudah berkeluh kesah.

Manusia adalah makhluk sosial yang sangat membutuhkan bantuan orang lain, padahal karakter manusia itu berbeda-beda, sehingga wajar dan pantas tatkala ia berbaur dengan masyarakat banyak, ia harus menyesuaikan diri dengan adat istiadat masyarakat setempat dan sudah lumrah andaikata ia mudah terpengaruh oleh suasana dan keadaan di sekelilingnya.

Maka Allah subhanahu wata’ala sang pencipta syariat memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersama dan bergaul dengan orang-orang baik demi menjaga keimanan mereka, sebagaimana firmanNya,

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’la tidak mencukupkan dengan perintah bertakwa saja, namun Ia pun memerintahkan mereka untuk senantiasa menyertai orang-orang yang benar lagi jujur sebagai sarana melestarikan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu mendapatkan wanginya. Sedangkan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ahmad)

Kebutuhan manusia akan lingkungan yang baik, laksana kebutuhan tanaman akan tanah yang subur. Manakala tanah itu bagus, cukup kandungan unsur haranya, suhunya cocok dan airnya cukup, maka tanaman tersebut akan bersemi, tumbuh berkembang dan berbuah sesuai yang diharapkan. Namun bila tanah tersebut tandus, suhunya tidak cocok dan airnya tidak stabil, maka tanaman tersebut tidak akan berkembang dengan baik dan tidak akan menghasilkan buah sesuai dengan yang didambakan, bahkan tanaman itu bisa mati karenanya.

Maka selayaknya kita mencari lingkungan yang baik, teman yang shalih yang bisa mendukung kita untuk selalu istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه الترمذي)

“Seseorang itu tergantung kepada kepribadian teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ikhwaniy fillah ketahuilah, bahwa interaksi sosial itu apabila dibangun diatas kemaksiatan, maka para pelakunya sama-sama akan mendapatkan dosa dan murka Allah subhanahu wata’ala. Jika dibangun diatas dasar kedunian belaka, maka para pelakunya tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun jika hubungan tersebut dibangun diatas kecintaan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hubungan yang seperti ini sangat dianjurkan oleh syariat dan pelakunya berhak mendapatkan kecintaan, keridhaan dan pahala yang melimpah dari Allah subhanahu wata’ala serta berhak mendapatkan keutamaan baik didunia maupun di akhirat.

Keutamaan bergaul dengan orang baik

Adapun keutamaan di dunia:

a)   Mendapat cinta Allah subhanahu wata’ala

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits Qudsi,

حقت محبتي على المتحابين في وحقت محبتي على المتناصحين في وحقت محبتي على المتزاورين في وحقت محبتي على المتباذلين في وهم على منابر من نور

“Berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling mencitai karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling menasihati karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling mengunjungi karena aku, berhak mendapatkan cintaku orang-orang yang saling memberi karena aku, mereka berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya.” (HR. Malik, Ahmad dan Ibnu Hibban)

b)   Merasakan manisnya iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman, hendaklah dia mencintai saudaranya dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam:

« ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ »

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman. Jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang yang tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, ia benci untuk kembali pada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilempar kedalam neraka,” (HR. Bukhori dan Muslim)

c)    Allahkakan memuliakannya

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

ما أحب عبد عبدا إلا أكرمه الله عز وجل

“Tidaklah seorang hamba mencintai hamba lain karena Allah, malainkan Allah akan memuliakannya.” (HR. Ahmad)

Ikhwatiy fillah ketahuilah, bahwa cinta terbesar dari Allah akan diraih oleh orang yang paling besar kecintaannya kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما تحاب رجلان في الله إلا كان أحبهما إلى الله عز وجل أشدهما حبا لصاحبه

“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, melainkan orang yang paling dicintai Allah diantara keduanya adalah yang paling besar kecintaanya kepada saudaranya.” (HR. Bukhori, Ath-Thobroni dan Abu Ya’la)

d)   Senantiasa mendapatkan kebaikan yang tak terhingga

Ketika seseorang bergaul dengan orang yang shalih, maka ia akan senantiasa menyaksikan ketulusan hati, amal-amal kebaikan, kejujuran dalam bermuamalah, bantuan dan motivasi, mendengarkan untaian nasihat-nasihatnya dan ia akan menuntunnya untuk sama-sama beramal shalih sepertinya, lebih-lebih kalau ia bergaul dengan ulama, selain akan mendapatkan kebaikan diatas, ia pun akan senantiasa meneguk madunya ilmu, arahan dan qudwah hasanah dalam segala kebaikan.

Alangkah beruntungnya mereka yang menghabiskan masa hidupnya di bawah bimbingan ulama, jauh dari kebodohan, terbebes dari subhat yang mengitarinya atau syahwat yang siap memangsanya, selalu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada diri dan keluarganya, dan mereka adalah para sahabat beserta nabinya. Semoga kita termasuk bagian dari mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ (رواه الترمذي)

“seseorang itu tergantung kepada kepribadian teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Abu Dawud)

Dan semoga Allahkmerahmati seorang penyair yang telah mengingatkan kita dengan syairnya,

وَمَنْ يَجْعَلِ الْمَعْرُوْفَ فِي غَيْرِ أَهْلِهِ            يَعُدْ حَـــمْـدُهُ ذَمًّـا عَـلَــيْهِ وَيَـنْــــــــدَمِ
Barang siapa berbuat baik terhadap orang yang tidak berhak atasnya

Niscaya celaan dan penyesalan menjadi buah dari kebaikannya

Ya Allah, cintakan hati kami kepada orang-orang shalih, dan gabungkan kami beserta mereka di dunia dalam keridhaan-Mu dan di akhirat dalam surga-Mu.

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka waatubu ilaika, waakhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin.

(Disarikan dengan disertai penambahan dari buku “Adab Berteman” karya Fariq Gasim Anuz oleh Ahmad Wafiy Bambang Prasetyo “085268643696”)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2011 in Adab, Religi